Dari AS hingga Eropa, Ini 5 Bank Besar yang Diterpa Krisis

Silicon Valley Bank

Saat ini, sejumlah bank besar asal Amerika Serikat (AS) sedang mengalami krisis besar dalam sepekan ini. Para regulator di negara paman Sam tersebut sedang berupaya untuk memperbaikinya.

Bahkan, bank Eropa seperti Credit Suisse juga turut diterpa krisis yang bisa berujung pada kejatuhan bank legendaris tersebut.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh CNBC Indonesia, setidaknya ada lima bank besar yang tengah diterpa krisis.

Silicon Valley Bank (SVB)

Silicon Valley Bank (SVB) resmi kolaps pada Jumat lalu. Ini terjadi setelah perusahaan perbankan komersial berbasis California, AS ini mengalami krisis modal dan bangkrut dalam 48 jam terakhir.

Bank tersebut kolaps karena gagal mendapatkan suntikan modal dan penarikan dana dari nasabah dan investor. Dahsyatnya, SVB bangkrut hanya 48 jam setelah berencana mengumpulkan dana sebesar US$ 2,25 miliar atau setara Rp 34,75 triliun untuk menambah modal pada Rabu pekan lalu.

Bank yang berdiri pada 1983 tersebut membutuhkan suntikan modal karena banyaknya klien mereka yang menarik simpanan. Namun, rencana ini pun gagal, karena pasar khawatir melihat kondisi keuangan bank. Hingga Kamis (9/3/2023), penarikan modal dari SVB menembus US$ 42 miliar atau Rp 648,69 triliun.

SVB pun terpaksa menjual kepemilikan obligasi mereka senilai US$ 21 miliar atau Rp 324,5 triliun untuk mendapatkan dana. Sebagian besar obligasi yang dimiliki SVB adalah surat utang pemerintah AS.

Namun, dengan kondisi saat ini, penjualan bond malah membuat bank tersebut rugi hingga US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 27,8 triliun. SVB rugi besar karena nilai obligasi tengah jatuh. Kenaikan suku bunga agresif The Fed tersebut membuat yield atau imbal hasil surat utang melonjak tajam. Sebaliknya, harga obligasi ambruk.

Ini menjadi kegagalan perbankan AS terbesar sejak krisis keuangan 2008. Ini juga merupakan terbesar kedua yang pernah ada di Negeri Paman Sam.

Signature Bank

Signature Bank yang berbasis di New York ditutup oleh regulator pada Minggu malam waktu AS, dua hari setelah SVB. Salah satu bank utama untuk industri kripto ini menambah daftar kegagalan bank besar di AS.

Kejatuhan Signature terjadi setelah terjadinya ketidakstabilan di pasar stablecoin. Mulai dari keruntuhan TerraUSD Mei lalu, regulator telah memperhatikan stablecoin dalam beberapa minggu terakhir.

Stablecoin yang dipatok dolar Binance, BUSD, mengalami arus keluar besar-besaran setelah regulator New York dan Securities and Exchange Commission memberikan tekanan pada penerbitnya, Paxos.

Selama akhir pekan, kepercayaan pada sektor ini kembali terpukul karena USDC, stablecoin yang dipatok dolar AS dan paling likuid kedua, kehilangan pasaknya. USDC turun di bawah 87 sen pada satu titik pada hari Sabtu setelah penerbitnya, Circle, mengaku memiliki US$ 3,3 miliar (Rp 50 triliun) yang dibelokkan SVB.

Signature Bank sendiri mulai beroperasi pada tahun 2001, baru mulai berfokus ke industri kripto dalam lima tahun terakhir. Perlahan bank tersebut mulai berkembang pesat dan setelah krisis keuangan 2008 menjadi salah satu bank kesayangan investor karena memberikan layanan dan birokrasi yang tidak rumit dan berkepanjangan.

Silvergate Bank

Tak hanya Signature, Silvergate Bank juga mengalami nasib yang sama. Silvergate mengatakan pada Rabu pekan lalu bahwa mereka akan menghentikan operasi dan melikuidasi banknya.

Baik Signature dan Silvergate adalah dua bank utama untuk perusahaan kripto. Sehingga Silvergate ikut jatuh setelah terjadinya ketidakstabilan di pasar stablecoin.

Credit Suisse

Krisis keuangan perbankan AS yang dipancing oleh kejatuhan SVB telah menyebar hingga ke regional Eropa. Di mana saham Credit Suisse kehilangan lebih dari seperempat nilai sahamnya pada Rabu pekan ini.

Bukan hanya itu, saham Credit Suisse juga sempat gonjang-ganjing setelah Saudi National Bank (SNB), bank Arab Saudi pemegang saham mayoritas, mengatakan mereka tidak akan menyuntikkan lebih banyak uang ke Credit Suisse. SBN yang dimiliki dana abadi Arab Saudi (Public Investment Fund/PIF), diketahui memiliki 9,88% di bank Swiss tersebut.

First Republic Bank

Daftar bank yang terancam kolaps pascakejatuhan SVB terus bertambah. Terbaru, sebanyak 11 bank sepakat untuk menyetor dana senilai US$ 30 atau sekitar Rp 462 triliun (kurs Rp 15.400) ke First Republic Bank untuk menghindarkan bank tersebut dari kebangkrutan.

Kabar itu muncul setelah saham First Republic terpukul dalam beberapa hari terakhir, dipicu oleh ambruknya SVB Jumat lalu dan Signature Bank pada akhir pekan lalu. Adapun, aksi 11 bank tersebut dimaksudkan sebagai tanda kepercayaan pada sistem perbankan.

Bank of America, Wells Fargo, Citigroup, dan JPMorgan Chase masing-masing akan menyumbang sekitar US$ 5 miliar. Sementara Goldman Sachs dan Morgan Stanley akan menyetor sekitar US$ 2,5 miliar.

Truist, PNC, US Bancorp, State Street, dan Bank of New York Mellon masing-masing akan menyetor sekitar US$ 1 miliar.

“Tindakan oleh bank terbesar Amerika ini mencerminkan kepercayaan mereka pada First Republic dan bank dari semua ukuran, dan itu menunjukkan komitmen keseluruhan mereka untuk membantu bank melayani pelanggan dan komunitas mereka,” kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan, dikutip dari CNBC International.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*