Keren! Perempuan Pimpin Salat Jumat, Tafsir Ulang Al-Quran

Ilustrasi alquran (Freepik)

Isi kitab suci Al-Quran sejatinya tak pernah berubah dan selalu relevan. Namun, pemaknaan atau tafsirnya kerap berbeda-beda.

Biasanya, penafsiran Al-Quran akan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Di sisi lain, orang yang menafsirkan Al-Quran juga sangat menentukan pemaknaan isi kitab suci umat Muslim tersebut.

Ini yang menjadi akar masalah. Para penafsir Al-Quran yang kebanyakan laki-laki melahirkan prasangka diskriminatif terhadap kedudukan perempuan dalam Islam.

Saat menafsirkan, seseorang tak lepas dari subjektivitas. Singkatnya, mereka lebih mengedepankan persepsi dan keinginan kaum laki-laki.

Padahal, di dalam Al-Quran, Allah banyak membicarakan sisi kehidupan perempuan, dari mulai posisi sampai keistimewaannya.

Hal-hal seperti inilah yang membuat Amina Wadud Muhsin turun gunung mengubah persepsi itu. Lahir pada 25 September 1952, Amina Wadud bukanlah Islam tulen.

Bapaknya adalah seorang pendeta ternama di Amerika Serikat. Dia sendiri memiliki nama akte Mary Teasley. Barulah saat usia 20 tahun dia memutuskan pindah agama ke Islam dan mengubah namanya menjadi yang dikenal saat ini.

Dalam Inside the Gender Jihan: Women’s Reform in Islam (2006), Wadud bercerita keputusan ini didasari oleh diskriminasi yang dialaminya sebagai perempuan Afrika-Amerika yang beragama Kristen.

Kristen, keturunan Afrika, miskin dan tidak berdaya, itulah yang dialami Wadud selama 20 tahun hidup pertamanya. Saat berada di bawah rasisme seperti itulah, dia melihat Islam sebagai agama keadilan di tengah ketidakadilan yang terjadi.

Islam dianggap dapat melindungi dan mendukung posisinya sebagai perempuan dari kelas berbeda. Setelah menjadi Islam itulah Wadud banyak belajar tentang bahasa Arab, Al-Quran, dan tentu ke-Islaman.

Tercatat dia kuliah sampai ke Kairo, Mesir. Selama berkelana mencari ilmu, Wadud melihat ada yang salah terhadap penafsiran Al-Quran.

Kesalahan itu terletak pada besarnya subjektifitas penafsir yang didominasi laki-laki. Ini membuat mereka memberi kedudukan eksklusif bagi kaumnya sesama laki-laki.

Dalam Qur’an and Woman (1999), Wadud menganggap tafsir Al-Quran bersifat dinamis, sehingga harus terus menerus ditafsirkan. Baginya, ini bertujuan untuk mencapai “the lived state of Islam”.

Maka, dalam berbagai karyanya dia ingin menemukan atau mengangkat kembali jati diri perempuan Muslim yang telah “dirampas” oleh penafsiran yang bias. Satu-satunya cara adalah merumuskan ulang makna dan tafsir kesetaraan laki-laki dan perempuan.

Masih mengutip Qur’an and Woman (1999), tafsir yang dilakukan Wadud berdasarkan metode hermeneutika tauhid. Maksudnya, dia berupaya menganalisis teks ayat-ayat Al-Quran dengan memusatkan pada susunan bahasa yang bermakna ganda. Dari sini dia mampu membongkar persepsi interpretasi tentang perempuan.

Jadi saat membaca satu per satu ayat Al-Quran, dia berupaya memahami konteksnya, melihat kedudukan ayat tersebut dengan ayat lain, melihat kesamaan bahasa dan struktur di seluruh bagian kitab suci.

Itu semua dilakukan untuk mengambil ‘jiwa’ dari ayat-ayat Al-Quran demi tercapainya visi egaliter. Lalu, bagaimana aplikasi penafsiran ulang Amina Wadud?

Perempuan Tak Lebih Rendah dari Lelaki dalam Al-Quran

Mengutip riset “Tafsir Ayat-Ayat Gender Ala Amina Wadud Perspektif Hermeneutika Gadamer” (2015), salah satu sorotan Wadud adalah tentang penciptaan Al-Quran berdasarkan An-Nisa ayat 1 yang membahas kalau Tuhan menciptakan laki-laki (Adam) dari sumber yang satu, kemudian baru diciptakan perempuan (Hawa) dari sumber (bagian) dari diri laki-laki.

Dalam tafsir tradisional, ayat tersebut memberi pernyataan bahwa perempuan (Hawa) diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Artinya, kehadiran perempuan bergantung pada laki-laki atau laki-laki berperan penting bagi perempuan.

Bagi Wadud, pandangan ini jelas keliru dan harus dilakukan re-interpretasi. Berdasarkan metodenya, dia membedah satu per satu kata dalam ayat tersebut. Lalu mendudukkannya pada konteks dengan ayat lain.

Dari sini dia menghasilkan satu tafsir baru. Bahwa tidak ada pernyataan Al-Quran bahwa laki-laki lebih penting dari perempuan. Kata Wadud, “Penciptaan laki-laki dan perempuan sebagai sebuah pasangan merupakan bagian rencana Allah. Dengan kata lain, antara kedua bagian dalam pasangan tersebut sama pentingnya.”

Keduanya tercipta dari sistem berpasang-pasangan. Namun, Wadud juga memaklumi apabila ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam ranah fungsi biologis.

Paparan di atas hanya satu dari ratusan tafsir Wadud.

Meski demikian, bukan berarti tafsirannya tidak ditentang banyak orang. Justru, hujatan terus menerus diterimanya yang melawan pandangan diskriminatif terhadap perempuan.

Perempuan Pertama yang Jadi Imam Salat Jumat

Salah satu kontroversi paling besar yang melibatkan Wadud adalah saat dia menjadi perempuan pertama di dunia yang memimpin Salat Jumat di New York (2005) dan Oxford (2008).

Wadud yang sudah menafsirkan Al-Quran, memandang tidak ada yang salah dari keputusannya, karena Al-Quran tidak melarangnya. Jelas, tindakan ini menuai kontroversi dari dunia.

“Bisa-bisanya Salat Jumat yang makmumnya adalah laki-laki, dipimpin oleh seorang perempuan,” begitu kira-kira isi mayoritas kecamannya.

Dalam laporan BBC Indonesia (15 April 2022), Wadud kini menghabiskan sisa hidupnya dengan bermukim di Yogyakarta. Disana dia aktif mengajar di UIN Sunan Kalijaga dan Universitas Gadjah Mada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*